Sabtu, 30 April 2011

Melihat Mutiara dari Balik Butiran Pasir


Renungan berikut saya sarikan dari buku karangan Mustamir, diterbitkan oleh Diva Press cetakan tahun ke II, Januari 1999.
 
Saudaraku, kira-kira apa yang mendorong orang untuk mau bersusah payah belajar, mengendalikan emosi, menahan amarah, dan mengatur suasana hatinya? Mungkin mereka melakukannya demi materi, demi mendapatkan suami/ istri, dan demi-demi yang lain. Disinilah peran kecerdasan ke-3 ini, yaitu kecerdasan spiritual.
Ciri-ciri terdapatnya Kecerdasan Spiritual :
1.       Mengenal motif kita yang paling dalam.
2.       Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi.
3.       Bersikap responsif terhadap diri yang dalam.
4.       Mampu memanfaatkan dan mentrandensikan kesulitan.
5.       Sanggup berdiri, menentang, dan berbeda dengan orang banyak (tentunya berbeda
           yang positif).
6.       Enggan mengganggu atau menyakiti orang dan makhluk lain.
7.       Memperlakukan agama secara spiritual (bukan hanya hukum formal).
8.       Memperlakukan kematian secara cerdas-spiritual.
Simaklah cerita berikut (ini bukan cerita humor, tapi bila ingin tertawa, ya tertawa saja!) :
Tiga orang kuli sedang membangun sebuah masjid, kemudian mereka ditanya seseorang. “Apa yang sedang Bapak lakukan?”
“Aku sedang mengaduk pasir”, kata kuli pertama, malas.
“Kalau aku sedang membangun masjid”, kuli kedua yang juga sedang mengaduk pasir menjawab dengan bersemangat.
“Ah, kalian salah. Kita sedang membangun surga!” kata kuli ketiga lebih bersemangat.              
Nabi Agung Muhammad SAW bersabda, “Segala sesuatu tergantung niatnya”. Kuli pertama berniat mengaduk pasir, yang akan dia dapat adalah adukan pasir. Kuli kedua berniat membangun masjid, dia mendapat bangunan masjid. Yang ketiga berniat membangun surga, maka surgalah yang kelak didapatkannya.
Kecerdasan SQ adalah kemampuan tuk mengenali dan memahami motivasi-motivasi hidup yang menuntun seseorang menentukan atau memilih motivasi dalam hidupnya. Secara sederhana, SQ adalah kemampuan seseorang untuk IKHLAS. (menurut penulis buku tsb). Orang ikhlas itu tak mudah putus asa, bahkan mampu melihat MUTIARA DI BALIK PASIR YANG TAK BERNILAI.
Orang yang cerdas spiritual, akan menggantungkan dirinya kepada Dia yang Esa. Dia teguh pendirian, namun hatinya penuh belas kasih dan sayang pada sesama karna kesadarannya, bahwa dunia adalah cermin “keberadaan”-Nya. Ketika melihat dunia, ia seakan-akan SEDANG MELIHAT TUHAN. Dan ketika mengingat Tuhan, tumbuhlah kasih sayangnya pada semua makhluk ciptaan-Nya.
Kecerdasan spiritual harus kita kembangkan agar kita bahagia. Kebahagiaan dapat kita rasakan hanya jika kita menggantungkan hidup kita kepada Dia, “tempat bergantung” segala sesuatu.
Jadi, kita harus mengenal-Nya agar kita mencintai-Nya, dan setelah itu, dengan sukarela, kita menyerahkan segala urusan kepada Dia.
Syarat mengenal Tuhan ada dua :
1.       Mengenal dunia.
2.       Mengenal diri pribadi.
Mengapa begitu?
Karena kita tak kan mungkin mengenal  Tuhan SECARA LANGSUNG, karena Dialah kesempurnaan yang berada DI LUAR nalar kita.
Karena sesuai hukum alam, yakni bila ingin benar-benar mengenali sesuatu, maka PELAJARILAH KEBALIKAN DARI SESUATU ITU. Misal tuk mengenal KETINGGIAN, kita terlebih dulu harus mengenal KERENDAHAN. Untuk mengenal UTARA, maka kenalilah SELATAN. Untuk mengenal KESEMPURNAAN, maka kenalilah KETIDAKSEMPURNAAN. Bukankah kita sering tidak “ngeh” atau tidak “nyadar” terhadap terangnya siang, jika kita belum pernah tahu betapa gelapnya malam. Alangkah memprihatinkannya manusia, yang sering lupa, padahal dia sendiri belum tentu benar. Dan, ketidaksempurnaan tersebut ada pada dunia, dan kita ini, yakni manusia.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates